This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Tampilkan postingan dengan label akuntansi. ekonomi koperasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label akuntansi. ekonomi koperasi. Tampilkan semua postingan

Jumat, 04 Januari 2013

Pemetaan Koperasi Serba Usaba dan Program Pembinaannya di Kabupaten Jernber

PEMBAHASAN
Koperasi sebagai strata lembega adalah ben­sifat independen, artinya keberadannya tidak dikendalikan pemerintah melainkan hanya di atur di­arahkan, clan difasllitssi agar dapat mencapai 'tujuan yang diinginkan. Keberadaan koperasi sangat ditentukan oleh sekelompok masyarakat yang berkeinginan untuk rnelakukan kegintan ekonerni me­mka melalui organisasi melalui organises: kopera­si, sehingga semua kegiatan di dalam koperasi itu direncanakan, dikendalikan dan diputuskan serta dilaksanakan oleh mereka sandiri.
Solution ini perkembangan koperasi di Indo­nesia telah menyimpang dari jatidirinya, yakni ada­nya peranan pemerintan yang dominan di dalam koperasi, sehingga koperasi tidak rnorrriliki Mao­mi untuk mengatur sendiri tentang kOnrclupan ko­perasinya. Selama ini kctergantungan koperasi ter­hadap pemerintah sangat besar, dimana tanpa ban­tuan dan dukungan dari penterintah usaha koperasi malt berkembang tint mi terbukft set6ah dihapos­kannya berbagai bantuar dad pemerintals banyak koperasi yang hanya tinggal pagan namanya saja.
Soma urnum performance KSU di Kabupa. ten Jember masih josh dari harapan pemerintah da­lam melakukan pemberdayaan ekonomi kerakyatan melalui program pembangunan 247 KSU di Kale, paten JemPcr. Hal ni ditunjukkan oleh rata-rata posisi KSI; di Kabugaten Jember dalarn pots Grid Model berada pada posisi kuadran II. Posisi ban­dana II mengindikasikan bahwa KSU tersebut mints menerapkan jati did koperasi dalam pengelolaan­nya walaupun belum semuanya bins diterapkan dan daya snipe KSU tersebut masih
Program pembinaan bagi KSUA Kabupaten Jember darahkan pada program pcningkalan days ming KSU sehingga nilai daya sain.g dart yang In­rnah (,hertao.da ragatift menitadi lebat hunt (lecrtad­da positif), Hal ini :Kaman days saing usaha KSU berkaitan anal dengan hidup-mati dan berkembang­nya KSU tersebut. Jika KSU lernah daya saingnya kemungkinan bosar sulit berkembang dan Oalam wakor tidak totals lama akan gulang tikar. Olchkarena its upaya penguatan days acing medal, Sa­ran dilakukan.
Kusimpulan DAN SARAN
Kesimpulan
Berdasarkan anallsis dan pernbahasan basil penelitian tentang pemetaan Koperasi Samba Usaha di wilayah kecamatan Patiang, Kaliwates, dan Sumbersari Kabupaten Jamben ditinjau dar: aspek jatidiri lair daya suing, ranks dapa: diambil beberapa kesimplan seperi beriktd ini.
·    postal peta KSU di Kabapaten Jember dalarn diagram Grid Mc, del berada path kuadren II yaitu jatidiri positif dan Jaya rainy negatif. Ra­ta-raia nilai jatidiri KSU yang ada di tiga Ke­eama:an tersebut sebesar 1,18 yang berani bar,mu ni1a1 penerapan jandiri dalam pengtho. lath KSU cukup tinggi/sudah mengamh pada
penerapan prinsip-prinsip koperasi. Namun ni­lai tersebut masih belum masuk kedalam nilai :deal (perterapan jatidiri sangat tinggi yaitu se• besar positif 9). Sedangkan rata-rata nilai daya saingnya sebesar 1,15 (daya acing akar ren. dab) yang berani bahwa campun tangan pea.- rintah sclama ini dalam pengelolaan KSU cu­kuptinggi, atau dapat dikatakan bahwa Kat di alga Kecamatan tersebut secara umnm datum pengelolaannnya rrasfa betgarnung Fade fasil tas yang diberikan pemerintah.
Steam umum performance KSU di Kabupaten Jember masih jauh dar: harapart pemerintah dalarn melakukan pemberdayaan ekonomi rakyatan melalui program pembangunan 247 KSU di Kabupaten leather. Hal int ditunjuk­kan oIeh rata-rata posts) KS'.) di Kabupaten Jambe: berada pada posist kuadran II. Pusisi kuadran II mengindikasikan hahwa KSU ter­scbet telah menerapkan jati din i koperasi dalam pertgalolaannya walaupun balm senwanya bi­sa diterapkan data daya pacing KSU tersebut masih lama}. 
saran
Berdasarkan kesimpulan basil penelitian ter‑sebut, maka dalarn upaya untuk menguatkan jati‑
dan daya saing usaha Koperasi Ser'ea. Usaha diKabupaten Jember perlu dilakukan pernbinaan terhadap KSU-KSU tersebut. Program-program pem-binaan tersebut antara lain sepeni berikut ml.
 • Program-program ;:ernb:naan dalam rangka memaerkua: Jahn din dalam pengelolaan KSU yang terdiri dark - Program pernbinaan pernberdayaan potensi anggcna scbaga: sumber modal dan pasar porensial melalui pendidikan perkoperasi-an tentang pentingnya peampukan modal intern don peningkatan pelayanan pada ansgota bagi soluruh anggota, pangurus dan pengawas - Program pembinaan peningkatan kualitas surnberdaya manusia koperas melalui pen-didikan, pelathan, studi banding dun pen. dampingan bagi pengurus, pengawas, kar-yawan KSU, Program perabinaan penciptaan clan pergaatan jaringan usaha der.gan mendo-rong terbentuknya jaringan kerjasaina usa-ha antara KSU baik secara vertikal mau-pun norisontal serta kerjasarna dengan tenibaga bjsnis dun Ice:rang:in lainnya. - Program pembloaan penlngkatan kemandi-rim Kai malalui peningkatar kernampuan di bidang pongelolaan organ/sari, kelem-bagaan, can usaha, sera program magang pada koperasi yang sodah maju bagi pang:Hos don kwyawan. Program-program pembinaan dalam rangka mempeskuat daya saing use.na YkSU yang ter-diri dark - Program pembinaan melalui pendidikan perkoperasian kepada seluruh a.nggota, pengums, pengawas dan pengelola dalam hal merranami secara mm/slam bagaima-na berkoperasi yang lornar bardasarkan ni-lai-nilai yang terkandung dalam prinsip-prinsip koporasi dar. bagaimana imolemen-tasInya data:, kehidupar sehari-hari dalam pengelclaan KSU. Program pembinaan melalsi pelatthan ten-tang bagaimana memaharni perangkat or-gan:sasi koperasi (menyangkut pengertian don ragas pokok fungsinyak serta bagai-rnana keterkaitan anion perangkat koperasi terrsebut.
- Program pembinaan melalui pelatihan, pernbirhan dan pendampiogan tentang ba-gaimana mengst or taktik dan strategj ope-rasiunal dalarn upaya penguatan organisasi dam kelembagaan KSU kepada pengurus, pengawas, don pengelo:a. - Program Furth:nun melalui pclatillan dan pendampIngan tentang prosedur don pelak-sanaan administrasi organisasi dan usaha yang tersistmn don standar. - Mcnurnbuhkanjiwa ketauladartan pada diri pengurus, pengawas, don pengelolaa KSU dalam rangka untuk rnenciptakan keperca-yaan arggota kepada KSU
 
DAFTAR RUJUKAN
Agus Priyono, Dkk, 2003. Pemberclayaan Koperasi Serbs Usaho (Kai) dan Penguatannya Berkaitan dengan Peningkar-, an Kesejahreraan Ekonomi Masyarakat di Kabapaten Jember.

Balitnangda Kabupaten Jambe!, Anonimus. 2000. Undang-undang Iowan Perkoperosian Na. 25 Tahtin 1992, Arkola, Surabaya. 

  2000. Penilaion Vngkat Perham-hongan Koperasi (Development Godder ..fssesmentiDL4) Terjemah dart bahan CCA-INC<MA Jakarda: Lsp21

 Emory, William C., and Donald C. Cooper. 1491. Business Research Method. 4 In edihon. Boston, RD, Irwin.

 Revrisond Baswir, 2000. Koperasi Indonesia. Edisi Pertama. Yogyakarta: EPEE 

Sukamdlyo. 1999, Manajemen Koperasi: Pusan CUP/a. 25 Taboo 1992, Jakarta: Elangga

Ibnoe Soedjono. 1991. Organisasi dun Usaha Koperasi, Pengertian Saran bagi Anggoia. Seri kesatu, IKPN-R1, Jakarta. 

 2001. Jatidiri Koaerasi. Jakarta: LSP2I 

Kamis, 03 Januari 2013

Pemetaan Koperasi Serba Usaba dan Program Pembinaannya di Kabupaten Jernber



HASIL 

Analisis Data dengan Grid Model
dalam penelnien ini akan dianaiisis peta posisi KSIJ di Kabueaten lember, sera akan diuraikan gambaran tentang peialtsanaan jatidiri dart kondisi daya saingnya Genii analisis grid model snack peta posisi KSU di Kabspaten Jernber disajikan dalam tabel 1 dan peta posisi KSU disajikan dalam gambar 1.


Berdasarkan data pada Tabel I diketahui bahwa rata-rata nilai latidiri KS1.1 yang ada di Ka­bupalcr. Jember sebesar 1,18 (jatidirl cukup tinggi) yang berarti bahwa penerapan jatidiri dalam penge­loinan KSU cukup linggi/sudah mengarah pada pe­nerapan pdnsip-prinsip koperasi. Sedangkan rata­rata nilar daya saing (kemandirian) KSLI yang ada di Kabupaten Jernber sebesar 1-,15 (daya saing cukup rendal,) yang berarti bahwa campur tangan pemerintah selama ini dalarn pengelelaan KSU cukup tinegl, atau dapat dikatakan bahwa KSU di Kabupaten Jember dalarn pengelolaannnya masih bergantung pada fasilitas yang diberikan pemerin­tah. Hal ini wajar karena umur KSU maslh sangat muda dan proses pembertukkannya bersifat top down (dari program pemerintah), sehingga masing­masing elemen-elemen organisasi masing belum siap.

Pemetaan Koperasi Serba Usaba dan Program Pembinaannya di Kabupaten Jernber


Agus Priyona

Abstracm The obleadve of shis researeh is idenrhy muhi prupose cooperaPve mapping dased on caaperadm Idendry shmement and compedfivertess, and us dmernilne developmem prpgrom mpld pmpom ,poimmopm, Jemberregency base on the moppIng Somples were Mken from three disalm namMy Pairong Kaliwams, and Sumbersari that represent narM Jenther, southJember and eam Jemberusing saiumPan sompUng. The numder af coopenadve in !he symyle .cs 22 Mealed theSe diSMiels. The onoipsis meMode used was grid maiet The .mPoil Of anaiysix showed Ota, (a) Mutri purpose 000peraoieoin Jember regeneyM in 000dfant of mopping diagram indisadng poshive identity Matemen, and negollve compePtivenes, (b) ln general Me perfamrame of muld pmpOse cooPerodve ln Jember regency is away from the expedadon of government !n emnomening people rconondm (c) The developmenfpogrumfor nndd purpaUe cooperadve in Jember regeney thnuld On Mremed rninw7p.,11011 of cooperadev compeddveness tha, the weak (negadve in sign) COmne(ilivene" 10000001n mranger (poshive ln sign)compeildveness,
Keywardm cnopeclive identif.y Mmemenr. cooperadve compeddveness. muld pmpose cnoperadve, grid model, cooperat;ve performance, cooperadve demlopmem progrom
Koperasi pada dasarnya adalah organisasi ekonomi dari orang-orang yang memiliki kemampdan eko­nomi terbatas, yang dalam gerak usahanye tidak hanya mementingkan motif ekonomi, tctapi juga  memiliki motif sosial. Sebagaimana treemtin da­lanl asas dan prinsip yang dianutnya, koperasi ada­lah suatu bentnk parusahaan yang berasas keke. luargaan dan dikelota secara dernokratis. Berdasarkan kedua rnotif tersebut, dengan sendirinya perasi trerniliki dua peran penting yang tidak dapat dipisahkan satu sama lain. Peran pertama adalah . dalarn bidang ekonorM. Sedangkan peran kedua adalah dalam bidang sosial. Peran koiierasi dalam kedua bidang itu bersiTat saling rnelengkapi dar ti­dak dapat dipisahkan dari hakikat koperasi sebagai suatu bentuk perusahaan alternatif.

Peran koperasi dalam bidang ekonomi secara kh,sus adalah sebagai bcrikut (Daswir, 2000,68):

-   Mebumbuhkan motif berusah.a yzng leb!h, ber. perikemamtsiaan. Dalam melakukan usahanyz, koperasi tidak menjadikan keuntungan sebag,ai motif utamanya. Motif utama koperasi adalah memberikan pelayanan, bukan rnencari keurt. tungan.
-    Mengembangkzn metode pembag:an s',sa hasil usaha yang lebih adil. Pembagian sisn hasil usaha da'an: koperasi tidak dtdasarkan atas be­sarnya modal. didasarkan atas perim‑   bangan jasa dan paresipasi masing-masing anggota dalarn membentuk yolume usaha perusahaan.

- Memerangi monopoli dan bentuk-bernuk kon­sentrasi modal lainnya. Sebagai suatu bentuk usaha bersama, knperasi bukanlah perkumpul­an modal yang semata-mata bermaksud rnen­cari keuntungan, melainkan perkumpulan orang. Tujuan utamanya adalah untuk mening. katkan kesejahteraan para anggotanya.


- Mennwarkan barang dan jasa dengan harga yang Ibbih murah. Dengan menjadikar, pela­yanan sebagai    motif utamanya, 'narga barang dan j.a yaug ditawarkan koperasi har. lebih murah daripada yang ditawarkan olch perusa­haan-pergsahaan kapitalis. Sehingga orang­omng dengan kemampuan ekonorni tarbatas te­tap dapat mernenubi kebutuhannya dengan har­ga tejangkau.


-Meringkatkan penghasitan anggotz-anggota­nya. Kountungan yang diperoleh Koporasi ti­dak dinikmati  oleh orang seorang. Melainkan dibagikan kembali kepada para anggotanya, sesuai dongen perimbangan usaha koprasi


-   Menumbohkan sisap jujur dan keterbukaan da­lam pengelolaan perusahaan. Koperasi mernbe­rikan kesempatan kepada semua anggotanya untuk mengetalmi kondisi keuengan perusaha­an, dan mengikutsertakan setiap anggota dalam mengelola dan mengawasi kegiatan perusaha‑

Menjaga keseinabangan antara permintaan dan penawaran, a:au artara kebutuhan dan peme­nuhan kebutuhan. Sebagai suatu organisasi ekonomi yang bertujuan meningkatkan kese­jah'eraan anggotanye, koperasi •menghindari segala bantuk praktek pennmpukan berang, yang ditujukan serna'a-ma:a un:uk meraila ke­untungan sebesar-besarnya.

-   Mendid;k ang,gota-anggotanya untuk memiliki semangat bekerjasama, baik dalarn menyele­saikan masalah-masalah mereka, maupun da­lam rnembangun tatanan sosial yang /ebih ber­periketnanusaan. Dengan cara itu koperasi membamu mengernbangkan prakarsa-prakarsa perseerangan untuk mengembangkan martabat dan haga tfrinya.


Menurut Gay Schwediman (dalam Sikamdi­yo,33), agar koperasi yang akan datang da­pat lebih maju, manajemen tradisional perlu di• ganti dengan manajemen modem yang mempunyai eiri-ciri berikut:

   ·     Ylemper:akukan semua anggotanya secara adil

   ·     Didukung admin:strasi yang cangg:h
   ·     Koperasi yang masih kecil dan lernah dapat melakukan merjer supaya menjadi lebih kuat dan schat   (baik keuangan rnaupun manajernen)
·     Petugas pemasaran koperasi harus bersifat agresif, yaitu tidak menunggu pembeli tetapi menjemput ealon pem heli



·     Kcbijakan penerimaan pegawai i didasarkan atas kebutuhan, yaitu yang terbaik:bagi kepen­tingan
·     Memprioritaskan keuntungan tanpa mengabai­kan pelayanan yang memadai kepada anggota dan pelanggan lainnya

·     Perhatian manajemen kepada faktor persaingan cksternal harus seinthang dengan masalah in­rernal.

Seeara yuridis formal, bangsa Indonesia rne­nempatkan koperasi dalam kedudukan baik scOagai soko guru peekonomian nasional maupun sebagai bagian integral tata perekonomian nasional. De­ngan memperhatikan kedudukan koperasi seperti tersebut di atas maka, peran koperasi sangatkah penting dalam menumbehkembangkan potensi ekonorM rakyat serta dalam mcwujudkan demokrasi ekortorni yang mempunyai

dernokratis, kchersamaan, kekcluargaan dan ke­terbukaan. Dalam kehidupon ekonomi seperti itu kope,asi sehar,nya memiliki ruang gerak dan kesempaan usalta yang luas yang menyangkut

pentingan kehidapan ekonorni rakyat. Tetapi dalam perkembangan ekonomi yang berjalan dernikian cepat, penumbuhan koperas: selama ini belum se­penuhnya menampakkan wujud dan peranr.nya sc­bagaimana diarnanatkan (38;3111 UUD 1945. Oleh karena itu, untuk menyclaraskan dengan perkem­bangan lingkungan yang dinamis maka diperlukan upaya nyata guna mengembangkan organisasi ko­perasi agar rnampu rnen.:alankan perannya sebagai pelaku utarna eloonomi kerakyatan, mengingat pc­luang usaha yang dimiliki sangat besar.

Berthinya koperasi serha usaha pada setiap desa di Kabnpaten lember yang thowali tabun 2002 schanyak 247 hrlah merupakan potensi yang oukup halk bagi pengem'uangan ekonomi masyara­kat bak perketaan maupun pedesaan. Namun de­mikien apabila pengelolaan koperasi tersebut tidak sesuai dengan prinsip-prinsip koperasi akan me­nirnbulkan masalah baru hagi dunia kopers: itu send:ri ser.a akan menjadi beban tarnbahan bagi pernerintah dan masyarakat.

Pemerintalt Kahepaten Jember borupaya me­rumeskan perneeshan masalah mendasar dengan melakukan beberapa tindakan. Tindakan itu antara lain adalah meningkatkan kapabilitas organisasio‑

usaha dan manajemen inrcnrnl, rnelindungi ke­beradaan dan proses pengembangan koperasi dari segala bentuk anearnan dan gangguan serta mer


iipaya-upaya terscbut tidak akan berhasil de­ngan balk tanpa diikuti oleh panahatuan yang mendalarn akan faktur-faktor kunci dalam mange- Iola dan membina koperasi tersehirt. Faktor-faktor mama yang harts diperhatikan dalam pongelolaan dun pernbinaan sebuah koperasi antara lain terletak pads penguasaan dan penguatan jail din', dan daya saing utahanya Hal in didukung °lett hank pe­nelitian Again Priyono, dkk (2003) yang menunjuk­kan bahwa kinerja KSU di Kab. Jember secara swans beiurn optimal (peranan jatidiri clan daya wing usahanya rnasih relatif lemah). Oleh karma itu kedua eariabel tersebut hams benar-benar dipa. harni dan diimplementasikan dalam kehidupan se­hari-kari berkaitan dcrigan pengelnlaan koperasi tersebut

Berdasarkan ,,mian di acas, maka dapat di­rumuskan suai, permasalahn selnagai berikut: (a) blagaimanskah pcme:aan Ko,eeras; Serba Osaka di Kabupaten Jember dari .3pck Jatidiri, dan daya sairnmya (b) Bagaimanakan program pernbinaan Kuperas'. Serbs Dream di Kabugaten Jember mangact, dari basil pemetaan tersebut Scsuai de­ngan petmasalahan tersebut, risks tujuan peneliti­an ini adalatc (a) Untuk mengetahui pcmetaan Ku. perasi Serbs Usaha di Kabupaten Jember dari as­pek iati dial, clan &ye suing usehanyw, .(b) Umuls rnenentukan program pcmbinaan torhadap Kopera­sl Serbs Usalta di Kabupaten Jambe, mangler/ dari hash l pemetaan tersebat.



Populasi pcnelitian lni adalah Koperasi Sun- ha Usaha yang didirikan berdasarkan program pa­merintah Kabupaten )ember yang herada di Kabu­paten Jember. Pengambilan sameel dilakukan pada rigs kecamalan yak.al Kecamatan l'attang,

tor, dan Sumbersari yang meavakili Jerneer seiatan, lumber Timer, dan lembcr Utara dengan menggu­nakan saturation sampling. Jumtah sampel pet-le:t­han sebanyak 22 KSU yang harada di Keeamatan

Patrang, Kaliwates, dan Sumbersari Kabnpaten Jamb..Metode Analisis Data

Dan i data primer dan sekunder yang diper­slab, selaMutrya dkan dianalisis &agar) =lode analisis grid Model ini diangkat dash rcko­mendasi ICA ROAP pads Konferensi Menteri­Menteri Koperasi Asia-Pasiflk di Kathmandu bu­lan April 2002. Koesep asli model ini diusulkan untuk menilai secara umum otratc.re:1 peatodang­undangan koperasi secara oyektif dart memposisi­karnya pads sebuah diagram yang bardimensi dna. Noma X mencirikan hal-hal yang berhubungar. de­ngan pengundalian oleh negara di sebelah

yang Inemungkinkan peraturan-perannan da;:at di­berlakokan dalam ekonomi Pusan yang dideregu­Iasi, sedangkan disebelah kanan menunjuk pada kernampaan days saing koperasi. Poros Y menciri­kan hal-hal yang berkaitan dengan :atidiri Kopera­si )Co-operadve Idereity Statement/10S) di sebe­lah was stuns di sebelab prltasip-ptibsip.Sar) petess­haan-perusal-.aan yang berorientasi pasta investasi (Invest., Oriented Forms/!OF) blab perusahaan­perusahaan yang dikendalikan uleh rinds: dan un­tuk memperolea keuntungan-keuntunoan bagi mo. dal.

Model analisisigunakan untuk menilai praktek-praktek perkoperasian pads Kope­rasi Serba Usaha yang diteliti yang diposisikan po­ds seboah diagram yang berdimensi data, Paws X menclrikan hal-hal yang berhubungan dengan pangandalian negara (claya suing lernah) di sebelah kin sedangkan sebelah kanan menunjuk pada ke­rnamptran daya saing koperasi (daya rainy tinggi). Poem Y rnencirlkan hal-hal yang berkaltan dengan jatidiri koperaSi (jatidiri kuat) di sebelah atas dan di sebelah baweh prinsip-prinsio dari oerusabaan­perusahaan yang bcrorientasi pads investasi Carl- din i dltinggaikan).

berikan bantuan kentudahan data)) mengembang. kan akses pembang...,nan jaringan kerjasama usaha. Selain its pemerintah juga butts memberikan pem-binaan balk langsung maupun lidak langsung ber-kaitan dengan ponInglKatan kincrja kora:raj secara utub den meeyetsseb. iipaya-upaya terscbut tidak akan berhasil de-ngan balk tanpa diikuti oleh panahatuan yang mendalarn akan faktur-faktor kunci dalam mange-Iola dan membina koperasi tersehirt. Faktor-faktor mama yang harts diperhatikan dalam pongelolaan dun pernbinaan sebuah koperasi antara lain terletak pads penguasaan dan penguatan jail din', dan daya saing utahanya Hal in didukung °lett hank pe-nelitian Again Priyono, dkk (2003) yang menunjuk-kan bahwa kinerja KSU di Kab. Jember secara swans beiurn optimal (peranan jatidiri clan daya wing usahanya rnasih relatif lemah). Oleh karma itu kedua eariabel tersebut hams benar-benar dipa. harni dan diimplementasikan dalam kehidupan se-hari-kari berkaitan dcrigan pengelnlaan koperasi tersebut Berdasarkan ,,mian di acas, maka dapat di-rumuskan suai, permasalahn selnagai berikut: (a) blagaimanskah pcme:aan Ko,eeras; Serba Osaka di Kabupaten Jember dari .3pck Jatidiri, dan daya sairnmya (b) Bagaimanakan program pernbinaan Kuperas'. Serbs Dream di Kabugaten Jember mangact, dari basil pemetaan tersebut Scsuai de-ngan petmasalahan tersebut, risks tujuan peneliti-an ini adalatc (a) Untuk mengetahui pcmetaan Ku. perasi Serbs Usaha di Kabupaten Jember dari as-pek iati dial, clan &ye suing usehanyw, .(b) Umuls rnenentukan program pcmbinaan torhadap Kopera-sl Serbs Usalta di Kabupaten Jambe, mangler/ dari hasih l pemetaan tersebut.

MOTIVASI DAN HASIL BELAJAR PADA MATA KULIAH PERMODALAN KOPERASI MELALUI APLIKASI MODEL KOGNITIF GAGNE



3. Hasil dan Pembahasan
 Pada peristiwa pembelajaran pertama yaitu membangkitkan perhatian dengan mengaplikasikan hasil refleksi siklus I dan II ternyata telah berhasil menarik perhatian mahasiswa pada siklus III, yaitu pada kategori kualitas “sangat tinggi” (10%), dan “tinggi” (85%). Hanya sebagian kecil (0,5%) yang masuk dalam kualitas “rendah”. Jika dibandingkan dengan hasil observasi pada siklus I dan siklus II, tampak ada kenaikan menjadi kualitas lebih tinggi pada siklus III yaitu dari 85% pada siklus I menjadi 89% pada siklus II dan 95% pada siklus III, atau naik 0,6%. Kemudian pada aspek persiapan diri yang dimiliki mahasiswa 25% pada kualitas “baik sekali”, 60% mahasiswa memiliki persiapan diri pada kualitas “baik”, tinggal 15% pada kualitas ‘sedang”, dan tidak ada pada kualitas “kurang” sehingga pada siklus III ini ada peningkatan dari 0,25% siklus I menjadi 40% pada siklus II dan menjadi 85% pada siklus III atau meningkat sebesar 45% dari siklus II.

Peristiwa pembelajaran kedua adalah memberitahukan tujuan pembelajaran. Hasil analisis pada siklus III menunjukkan bahwa pemahaman mahasiswa terhadap tujuan pembelajaran dalam kualitas “baik sekali” 23%, kualitas “baik” 65%, kualitas “sedang” 0,9% dan kualitas kurang tinggal 0,3% sehingga dibandingkan dengan hasil observasi pada siklus I dan siklus II, maka pada siklus III terjadi peningkatan pada kualitas lebih baik dari 25% pada siklus I menjadi 45% pada siklus II dan 85% pada siklus III atau meningkat 40% dibandingkan siklus II. Pada aspek pemahaman terhadap manfaat dari materi yang akan dipelajari, 10% berada pada kualitas “baik sekali”, 75% berada pada kualitas “baik”, kualitas sedang 1% dan kualitas “kurang” tinggal 0,3%. Dibandingkan dengan hasil pada siklus I dan siklus II, maka pada siklus III terjadi kenaikan dari 15%, menjadi 35% pada siklus II dan meningkat lagi menjadi 85% pada siklus III, atau meningkat sebesar 50% dibanding hasil siklus II.
Pada peristiwa pembelajaran ketiga, yaitu merangsang ingatan pada materi prasyarat hasil analisis pada siklus III menunjukkan bahwa daya ingat yang dimiliki mahasiswa tentang bahan ajar minggu yang lalu berada dalam kualitas “baik sekali” 25%, kualitas “baik 65%, kualitas “sedang” 10%, dan tidak ada lagi dalam kualitas “kurang”. Jika dibandingkan dengan hasil observasi pada siklus I dan II, nampak terdapat kenaikan pada siklus III yaitu dari yang berkualitas  baik pada siklus I 15%, menjadi 55% pada siklus II dan 90% pada siklus III, atau naik 35% dibanding hasil pada siklus II.
Pada peristiwa pembelajaran keempat, yaitu menyajikan materi bahan ajar, hasil analisis menunjukkan bahwa pada siklus III kesungguhan mahasiswa mengikuti sajian bahan ajar berada pada kualitas “baik sekali” 22%, kualitas “baik” 78%, dan tidak ada lagi yang berada pada kualitas “sedang” dan “kurang”. Dibandingkan dengan hasil observasi siklus I dan II,  nampak pada siklus III ada peningkatan untuk kualitas > baik dari 72% siklus I menjadi 95% pada siklus II dan 100% pada siklus III. Kemudian mengenai aktivitas mahasiswa selama peristiwa pembelajaran, pada siklus III berada pada kualitas “baik sekali” 30%, kualitas “baik” 60%, dan kualitas “sedang” 10%, dan tidak ada lagi yang masih berada pada kualitas “kurang”. Inipun jika dibandingkan dengan hasil observasi siklus I dan siklus II, terjadi peningkatan kualitas lebih baik, yaitu dari 20% pada siklus I, menjadi 60% pada siklus II dan menjadi 90% pada siklus III, atau naik sebesar 30% dibandingkan hasil siklus II.

Pada peristiwa pembelajaran kelima, yaitu memberi bimbingan belajar, hasil analisis menunjukkan bahwa pada siklus III mahasiswa yang mengalami kesulitan dalam memahami bahan ajar dalam kualitas “sangat rendah” menjadi 25%, rendah 65% dan masih 10% yang mengalami kesulitan belajar dalam kualitas “tinggi”. Jika dibandingkan dengan hasil observasi pada siklus I, dan II, maka pada siklus III mahasiswa yang mengalami kesulitan dalam memahami bahan ajar dalam kualitas “tinggi” menurun dari 25% pada siklus I menjadi 20% pada siklus II dan tinggal 10% pada siklus III, atau turun sebanyak 10% dibandingkan siklus II.

Pada peristiwa pembelajaran ketujuh, yaitu memberikan umpan balik, hasil analisis pada siklus III menunjukkan 20% mahasiswa memiliki tingkat kepuasan terhadap penguasaan bahan ajar yang telah dipelajari dalam kategori “baik sekali”, kualitas “baik” 70%, kualitas “sedang” 10%, dan dalam kategori “kurang” tidak ada lagi. Jika dibandingkan dengan hasil observasi pada siklus I dan II, tampak bahwa pada siklus III terjadi peningkatan kepuasan mahasiswa dari 15% pada siklus I menjadi 45% pada siklus II dan meningkat lagi menjadi 90% pada siklus III, atau naik sebesar 45% dibanding siklus II. 

Pada peristiwa pembelajaran keenam dan kedelapan, yaitu menampilkan dan menilai unjuk kerja, berdasarkan hasil analisis data menunjukkan bahwa nilai rerata tugas latihan V = 69,9, tugas latihan VI = 72,88 (bandingkan dengan siklus I: nilai rerata tugas latihan I = 61,79, latihan II = 64,91, siklus II: nilai rerata tugas latihan III = 65,58, tugas latihan IV = 68,17) dan rerata nilai kuis 3 = 79,90 (bandingkan dengan nilai kuis I = 68,68, kuis II = 70,29) sehingga nilai rerata hasil belajar pada siklus III = 75,67 (bandingkan dengan hasil belajar siklus I = 66,15 dan siklus II = 68,85), yang berarti bahwa rerata tingkat penguasaan kompetensi mahasiswa pada siklus III sudah mencapai 75,67%. Jika dilihat dari nilai individual, hasil belajar mahasiswa yang memperoleh nilai TL = 0 orang (0%), nilai C+ = 6 orang (11,54%), nilai B = 18 orang (34,61%) dan nilai B+ = 14 orang (26,92%), serta nilai A = 14 orang (26,92%). Dengan kata lain apabila dihubungkan dengan kriteria keberhasilan, 28 orang (53,84%) yang telah memenuhi kriteria yang telah ditetapkan. 

Pada peristiwa pembelajaran yang kesembilan, yaitu meningkatkan retensi, hasil analisis pada siklus III menunjukkan bahwa peningkatan retensi atau alih belajar mahasiswa sebagian besar (75%) berada pada kualitas “baik”, 20% dalam kualitas “sedang”, dan sisanya masih (0,5%) dalam kualitas “kurang”. Namun jika dibandingkan dengan hasil observasi pada siklus I dan II, pada aspek ini terjadi juga peningkatan yaitu dari 15% pada siklus I menjadi 50% pada siklus II dan meningkat lagi menjadi 75% pada siklus III, atau terjadi peningkatan sebesar 25% dibanding hasil siklus II.

Secara keseluruhan, setelah dilakukan penerapan model pembelajaran Gagne, peningkatan kualitas pembelajaran yang dicapai mahasiswa terus meningkat dari siklus ke siklus. Pada siklus II ditemukan bahwa kualitas proses pembelajaran lebih baik dibandingkan dengan kualitas proses pembelajaran pada siklus I, yakni 36,20% menjadi 59,40% pada siklus II dan meningkat lagi menjadi 88,80% pada siklus III. Jika hasil observasi ini dihubungkan dengan kriteria yang ditetapkan, maka nilai rerata hasil observasi pada siklus III mencapai 88,8%, melebihi kriteria keberhasilan 75%. Berdasarkan hasil olah data kuesioner Motivasi Belajar, diperoleh skor pada masing-masing siklus adalah sebagai berikut: pada siklus I rerata skor motivasi belajar mahasiswa baru mencapai 198,80, pada akhir siklus II meningkat 11,12% menjadi 220,90, dan pada akhir siklus III meningkat 29,42% menjadi 257,30. Pada hasil belajar, pada siklus I nilai rerata hasil belajar mahasiswa hanya mencapai 66,15, kemudian meningkat pada siklus II menjadi 68,85, dan meningkat lagi pada siklus III menjadi 75,67.

Untuk mengetahui apakah peningkatan hasil belajar di atas betul-betul dipengaruhi oleh penerapan model peristiwa pembelajaran Gagne dengan ciri khas melaksanakan sembilan peristiwa pembelajaran, mahasiswa diberikan kuesioner untuk menilai apa yang dilakukan oleh dosen selama penelitian tindakan kelas dilakukan. Aspek yang dinilai oleh mahasiswa meliputi sembilan peristiwa pembelajaran, yaitu stimulus yang diberikan dosen, penjelasan tujuan dan manfaat pembelajaran, pemberian stimulus ingatan, sajian bahan ajar dengan melibatkan aktivitas mahasiswa, pemberian bimbingan belajar, pemberian umpan balik, penilaian unjuk kerja mahasiswa mulai dari tes formatif, tugas latihan, dan kuis. Opsi yang diberikan terdiri dari empat skala, yaitu selalu, sering, jarang, dan kurang, dimana analisis skor penilaian menggunakan teknik persentase dari frekuensi skala yang dipilih mahasiswa, dengan ketentuan semakin mendekati skala “selalu” berarti penerapan model pembelajaran dilakukan dengan “baik sekali”. Sebaliknya semakin mendekati skala “tidak pernah” berarti model pembelajaran dilakukan “kurang baik”. 
Hasil penilaian mahasiswa tentang pelaksanaan sembilan peristiwa pembelajaran yang dilaksanakan oleh dosen, menunjukkan bahwa berdasarkan penilaian mahasiswa, dosen telah menerapkan model peristiwa pembelajaran Gagne dengan arah skala “baik”, dimana hasil perhitungan persentase menunjukkan kualitas “selalu” = 41% dan kualitas “sering” = 40%, yang apabila dijumlahkan menjadi 81%.

Berdasarkan hasil analisis tersebut dapat dikemukakan bahwa setelah siklus III dilaksanakan melalui proses pembelajaran yang menerapkan model pembelajaran kognitif Gagne pada mata kuliah Permodalan Koperasi, mahasiswa Program Studi Pendidikan Ekonomi Jurusan PIPS FKIP Universitas Jambi dapat meningkatkan motivasi belajar dan hasil belajar mahasiswa sesuai dengan kriteria yang telah ditetapkan. 

Hasil belajar mahasiswa yang tidak optimal dipengaruhi oleh banyak faktor, Salah satunya adalah bersumber dari faktor dosen yang kurang tepat dalam memilih model pembelajaran. Penggunaan model pembelajaran kognitif Gagne dalam pembelajaran mata kuliah permodalan koperasi ternyata dapat meningkatkan motivasi dan hasil belajar. Ini berarti bahwa model pembelajaran berpengaruh terhadap peningkatan motivasi dan hasil belajar mahasiswa. Model pembelajaran kognitif dari Gagne yang tidak lain adalah sembilan aktivitas-aktivitas belajar yang perlu diterapkan sebagai fase-fase belajar ternyata jika diterapkan secara tepat azas seperti yang telah dilakukan dalam penelitian tindakan kelas ini dapat menghasilkan peningkatan motivasi dan hasil belajar. 
Motivasi belajar dapat mencapai kriteria tinggi setelah pelaksanaan pembelajaran siklus III, yaitu 87% dan hasil belajar dapat dicapai setelah pelaksanaan pembelajaran siklus III dengan capaian nilai rerata hasil belajar 75,67 yang berarti bahwa rerata tingkat penguasaan kompetensi mahasiswa pada siklus III sudah mencapai 75,67%. 

Ini membuktikan bahwa sembilan peristiwa pembelajaran yang menjadi karakteristik model pembelajaran kognitif Gagne mampu mencapai dua sasaran ganda, yaitu meningkatkan motivasi belajar dan hasil belajar mahasiswa. Kata kunci untuk memperoleh hasil belajar yang optimal tersebut sesuai anjuran Gagne dibutuhkan tiga tahap kegiatan, yaitu (1) persiapan belajar, (2) pelaksanaan belajar, dan (3) pengendalian  belajar, yang ketiganya merupakan satu kesatuan yang harus difasilitasi dengan baik oleh dosen. 

Oleh karena itu, dalam proses pembelajaran di kelas dosen harus senantiasa selalu memperhatikan kondisi psikologis pelajar terutama yang berhubungan dengan persepsi, perhatian dan motivasi. Perilaku pelajar yang tampak harus juga diperhatikan adalah penyelesaian tugas pekerjaan rumah, latihan, hasil tes dan sebagainya. Motivasi belajar yang tinggi memiliki hubungan yang signifikan dengan hasil belajar mahasiswa. Hasil penelitian Wiyono (2003) menemukan bahwa terdapat hubungan yang positif yang signifikan antara motivasi belajar dengan prestasi belajar. Sumbangan efektif motivasi belajar terhadap prestasi belajar siswa sebesar 76,59% dan sumbangan relatif sebesar 6,22%. 

Begitu pula penelitian Ratih (2005) menemukan adanya hubungan yang positif dan signifikan antara motivasi belajar dengan hasil belajar (pada pelajaran bahasa Inggris), yang ditunjukkan dengan koefisien korelasi 0,529 dan memberi sumbangan sebesar 27,98%. Penelitian Thisted dan Remmers (dalam Sorenson, 1977), menunjukkan bahwa motivasi yang tinggi akan meningkatkan retensi mahasiswa dalam belajar. Hal senada juga dalam penelitian Ausubel, Schoopont dan Cukier (dalam Sorenson, 1977) menunjukkan bahwa motivasi yang tinggi dalam belajar akan meningkatkan retensi terhadap pelajaran tersebut.

Sebaliknya, penelitian Sopah (2000) justru menemukan bahwa tidak terdapat interaksi antara model pembelajaran dengan motivasi terhadap hasil belajar. Begitu pula Keller, Kelly dan Dodge (1978) (dalam Mursid, 2004) berdasarkan beberapa kajian teoretik memang menunjukkan bahwa variabel motivasi berprestasi cenderung tidak berkorelasi dengan hasil belajar. 

Namun demikian, penelitian ini menemukan bahwa model pembelajaran kognitif Gane telah nyata dapat meningkatkan motivasi dan hasil belajar mahasiswa pada mata kuliah permodalan koperasi. Walaupun temuan penelitian ini memiliki keterbatasan dalam hal setting kelas, yaitu baru pada mata kuliah permodalan koperasi, namun model pembelajaran kognitif Gagne direkomendasikan untuk diterapkan pada mata kuliah lain dengan tetap memperhatikan urutan dari sembilan peristiwa pembelajaran.

Peristiwa pembelajaran yang dimaksud diasumsikan sebagai cara-cara yang perlu diciptakan oleh dosen dengan tujuan untuk mendukung proses-proses belajar (internal) di dalam diri mahasiswa. Hal ini sejalan dengan apa yang dikemukakan Munandir (1987) bahwa konsepsi tentang siasat pengajaran itu pada hakekatnya berusaha menjelaskan komponen dari suatu perangkat material pengajaran dan prosedur-prosedur yang akan digunakan pada material tersebut, agar dapat menimbulkan hasil belajar tertentu bagi mahasiswa. 

4. Simpulan
                Penerapan model pembelajaran kognitif Gagne dalam mata kuliah permodalan koperasi secara nyata dapat meningkatkan motivasi dan hasil belajar mahasiswa. Hal tersebut memiliki makna bahwa jika model pembelajaran kognitif Gagne diterapkan taat azas, maka motivasi belajar dan hasil belajar yang dicapai mahasiswa akan meningkat. Temuan ini akan berdampak pada peningkatan indeks prestasi mahasiswa dan peningkatan kualitas pembelajaran. Penelitian ini memiliki keterbatasan, yaitu hanya dirancang untuk mata kuliah permodalan koperasi, dengan siklus tindakan yang juga terbatas, oleh karena itu diperlukan penelitian lebih lanjut pada mata kuliah dan latar (setting) yang berbeda. Di samping itu disarankan agar guru/dosen dapat mengaplikasikan model pembelajaran kognitif Gagne, yaitu menerapkan 9 fase pembelajaran jika bermaksud meningkatkan motivasi belajar dan hasil belajar siswa/mahasiswa. Implikasinya bahwa dalam proses pembelajaran di kelas, guru/dosen harus selalu memperhatikan kondisi psikolgis siswa/mahasiswa terutama yang berhubungan dengan persepsi, perhatian dan motivasi, serta memperhatikan perilaku yang tampak seperti tampilan unjuk kerja setelah mereka menyelesaikan tugas pekerjaan rumah, latihan, dan hasil tes.


Daftar Acuan

Ekawarna. (2002). Upaya meningkatkan hasil belajar dengan menerapkan model pembelajaran kognitif Robert Gagne pada mata kuliah teori ekonomi makro-1, Jurnal Penelitian Universitas Jambi, Seri D: Bidang Humaniora, 4, 1-21. 

Irawan, P. (2003). Applied approach:Evaluasi proses belajar mengajar. Jakarta: Ditjen Dikti Depdiknas. 

Gagne, R.M. (1977). The conditions of learning. New York: Holt Renehart and Wilson. 

Gagne, R.M., Driscoll, L.J., & Wager, W.W. (1988). Principles of instructional design. New York: Holt Renehart and Wilson. 

 Merriam, S.B. & Simpson, E.L. (1984). A guide to research for education and trainers for adult. Florida: Robert E. Krieger Publishing. 

 Munandir (1987). Rancangan sistem pembelajaran. Jakarta: P2LPTK Depdikbud. 

 Mursid, R. (2004). Pengaruh strategi penstrukturan isi teks ajar dan motivasi berprestasi terhadap perolehan belajar dan retensi mahasiswa pada mata kuliah gambar teknik. Jurnal Penelitian Bidang Pendidikan, 10, 95-103.

Pannen, P. & Purwanto. (2001). Applied approach: Pedoman penulisan bahan ajar. Jakarta: Ditjen Dikti Depdiknas. 

 Ratih, K. (2005). Motivasi dalam usaha meningkatkan keterampilan wicara bahasa Inggris mahasiswa jurusan non bahasa Inggris Universitas Muhammadiyah Surakarta 2001/2002. Jurnal Penelitian Humaniora, 6, 40-53. 

 Sorenson, H. (1977). Psychology in education. Bombay. New Delhi: McGraw-Hill Publishing Co. Ltd.

Sunarti, Itang A.M., & Zurhalena. (2002). Aplikasi teori motivasi dalam peristiwa instruksional Gagne untuk meningkatkan mutu hasil belajar mahasiswa pada mata kuliah dasar ilmu tanah. Laporan Penelitian, Fakultas Pertanian, Universitas Jambi. 

 Sopah, D. (2000). Pengaruh model pembelajaran dan motivasi beprestasi terhadap hasil belajar. Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan, 5/022, 121-137. 

 Wiyono, B.B. (2003). Hubungan lingkungan belajar, kebiasaan belajar, dan motivasi belajar dengan prestasi  belajar siswa. Forum Penelitian, Jurnal Teori dan Praktek Penelitian, 15/1, 28-36.